Tampilkan postingan dengan label Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Katolik. Tampilkan semua postingan

Perkamen: Ordo Misa 1962 hasil typeset LaTeX

Beberapa waktu yang lalu, aku telah menulis hal teknis tentang bagaimana menulis atau melakukan typeset notasi Gregorian dengan menggunakan GregorioTex dan kompilasinya dengan LuaLaTeX. Apabila kamu melewatkannya, kamu dapat mengklik link ini atau mencarinya pada bagian arsip blog ini di bagian paling bawah atau footer blog ini. Secara umum, artikel itu menceritakan tentang sedikit tentang misa bentuk luar biasa (forma extraordinaria) dan bentuk biasa (forma ordinaria), proses kompilasi dokumen LaTeX yang di dalamnya memerlukan paket gregoriotex dan liturg dengan pdfLaTeX dan hasilnya error serta tentu saja pemecahannya dengan membuat paket alternatif.

Perkamen: Masalah dan solusi tentang package liturg yang dikombinasikan dengan GregorioTex

Sumber: Proper Missa Forma Extraordinaria (diakses pada 9 Maret 2025).

Belakangan ini, aku sempat dikejutkan oleh chat dalam group whatsapp komunitas misa latin tradisional (Forma Extraordinaria). Chat itu berisi tentang permintaan tolong untuk membantu choir lagu gregorian dalam misa perkawinan dengan bentuk luar biasa (Forma Extraordinaria). Mungkin kalau pelaksanaannya di Yogyakarta, tidak masalah dan lumrah. Misa perkawinan forma extraordinaria ini akan dilaksanakan di Semarang. "Yang benar aja?!", kataku dalam hati.

Refleksi Temu Raya:

Namanya Pak Tomo dan Bu Lastri menyambut kami dengan kehangatan, meskipun suasananya dingin. Kami disambut dengan ramah dalam obrolan ringan.

Apa yang kami bicarakan? Ada banyak hal, mulai dari keseharian, cerita yang terkesan dimasa lalu, cerita tentang puteranya. Kami pun juga bercerita tentang diri kami sendiri.

Kami merasa senang mendapat sambutan seperti ini. Kehadiran kami serasa diharapkan di sini.

Ada hal lain yang membuatku tidak menyangka. Sebab di keluargaku sangat langka terjadi. Kejadian itu adalah doa bersama yang saling mendoakan. Entahlah, apa aku yang memang kurang terbiasa? Hari ini membuatku kembali bertanya kepada Allah tentang panggilan hidup, "Duh Gusti, kula kok dereng manteb." Aku berharap banyak, setelah ini ingin memantabkan diri untuk hal ini.

Kiranya Allah membimbingku

Masyarakat Sipil

Asal Tulisan ini:
---------- Pesan terusan ----------
Dari: Alexander David Ardian Rama Koisin <ardian.rama@gmail.com>
Tanggal: 30 Agustus 2013 19.32
Subjek: Fwd: Masyarakat Sipil
Kepada: wilbur.weasley.wizard@gmail.com
Cc: alberto.krishna@yahoo.co.id


---------- Forwarded message ----------
From: Purwono Nugroho Adhi <purwonona@gmail.com>
Date: Tue, 27 Aug 2013 09:55:46 +0700
Subject: Masyarakat Sipil
To: ardian.rama@gmail.com
Tulisan ini adalah hasil korespondensi antara kami.

Sebagai sebuah ruang politik, Civil Society adalah suatu wilayah yang menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan dan refleksi mandiri, tidak terkungkung oleh kondisi kehidupan material, dan tidak terserap di dalam jaring-jaring kelembagaan politik resmi. Tersirat pentingnya suatu ruang publik yang bebas, tempat di mana transaksi komunikasi yang bisa dilakukan oleh warga negara.

Ada tiga element penting yang dapat dilihat di dalam struktur hidup masyarakat , yaitu komponen Negara (State), komponen Bisnis-modal dan komponen ruang sosial-sipil masyarakat (Civil Society). Semenjak Perang Dunia II konsep negara "kebangsaan" dipaksakan kepada negara yang baru merdeka. Maka munculah proses keterasingan relasi sosial yang pada akhirnya membuka ruang seluas-luasnya  dominasi *negara (State)* kepada masyarakat sipil. Hal itu menimbulkan sebuah fenomena pelepasan kelompok masyarakat sipil dengan negara, masyarakat sipil dianggap sebagai musuh atau penghalang negara, organisasi-organisasi yang timbul dari masyarakat sipil disingkirkan dan tiada diakui keberadaannya. Maka terjadilah upaya-upaya penyeragaman kebijakan, program, struktur, arah dan cara pemecahan masalah oleh negara (menghilangkan pluriformitas dan pluralitas sosial). Munculah wacana bahwa warga negara dilihat sebagai konsumen atau klien negara, hal itu semakin diperparah dengan diperkuatnya birokrasi, sehingga memicu banyaknya pemikiran setiap warga untuk menjadi birokrat saja.

Zaman pun semakin berkembang, kekuatan negara mulai diimbangi oleh menculnya kekuatan *modal-kapital-bisnis*. Kekuatan modal-kapital ini merupakan kekuatan yang bergerak tidak terikat oleh kegiatan ekonomi formal nasional semata, melainkan telah menjadi kekuatan yang tiada lagi terikat oleh ruang-ruang nasionalisasi. Kekuatan modal ini telah menjadi kekuatan yang maha dasyat dan bersifat global. Dewasa ini pun komponen modal-kapital menjadi kekuatan yang dapat mempunyai daya cengkram kepada komponen negara,walaupun itu belum tampak sekali.

Tetapi arus zaman telah berkata lain, di masyarakat berkembanglah sebuah pemikiran basis yang hendaknya mempunyai daya tawar akan dominasi-dominasi yang terjadi. Maka munculah komponen ketiga yaitu *Masyarakat Sipil*, dimana masyarakat ini menjadi ruang publik untuk memperjuangkan nilai partisipatif dan demokratisasi masyarakat. Hegemoni negara terhadap warga haruslah didongkrak dengan partisipasi pemberdayaan yang masif. Masyarakat haruslah sadar akan ketertidasan dan mempunyai fungsi tawar besar terhadap segala bentuk dominasi yang dilakukan oleh komponen negara dan modal.

Maka Masyarakat Sipil merupakan "arena" atau "medan" dan ruang *(sphere)*perjuangan daya tawar itu berkembang dan berdaya guna menepis dominasi dari kedua komponen negara dan modal-bisnis. Ruang komplementer-partisipasi aktif yang memungkinkan komponen Masyarakat Sipil, negara dan bisnis haruslah terjadi sedemikian rupa. Untuk itu organisasi-organisasi yang berkembang sebagai elemen dari Masyarakat Sipil: NGO-Lembaga Swadaya masyarakat, perkumpulan warga, organisasi sukarela, haruslah menjadi daya gerak sebuah partisipasi masyarakat tercapai. Masyarakat Sipil menjadi ruang atau arena sebuah perjuangan visi etis kehidupan bermasyarakat untuk menumbuh kembangkan solidaritas sosial dalam masyarakat atau *social movement*, begitu juga dari segi itu ada elemen ideologis kelas dominan warga negara dapat mengimbangi dan mengontrol kekuatan negara dengan kemandirian, pluralitas dan kapasitas politik melalui bentuk-bentuk komunikasi publik, mobilisasi,* *dan *independent action. *Masyarakat Sipil menjadi ruang untuk menjamin berlangsungnya perilaku, tindakan, dan refleksi mandiri masyarakat, tidak terkungkung, terserap jaring-jaring kelembagaan politik resmi dan menjadi ruang publik yang bebas, sebagai tempat relasi sosial yang dapat dilakukan oleh warga masyarakat.

Perkamen: Catatan Akhir Semester 2

Wah..., tidak terasa semester ke-2 sudah selesai. Dan aku juga hampir melupakan blog ini. Memang sudah lama tidak aku isi. Yah..., kesibukan mahasiswa baru. Jadi panitia ini lah, jadi panitia itu lah dan lain sebagainya. Jadi, benar-benar aku lupa mengisi blog ini, apa lagi blog kimiaku
Sekarang aku sudah libur. Aku senang sekali. Dalam libur ini, aku menunggu nilaiku semester 2 yang belum keluar. Ternyata sistem akademik di Kampusku sudah diperbaiki. Pasalnya semester yang lalu kita bisa melihat nilai kita meskipun belum ada pengumuman resmi nilai itu keluar. Mungkin maksudnya supaya jadi bener-bener kejutan ya?!
Nah, liburan ini, mungkin aku akan ada trip. Pertama, ke Gereja Santo Antonius Padua Kota Baru Yogyakata. Kedua Pulang, untuk membayar pajak sepeda motorku. Sangat mengesankan.
Hal yang paling berkesan adalah waktu di Gereja Antonius Padua Kota Baru Yogyakarta. Aku sangat betah untuk tinggal, dan sayang untuk beranjak dari bangku gereja itu. Di situ terdapat lukisan dari Injil Yohanes, tetapi dengan nuansa Indonesia. Ada lukisan pesta perkawinan di Kana, Penyembuhan di Kolam Siloam, Percakapan Yesus dengan Nikodemus di waktu malam, Perjamuan malam terakhir, dan lainnya. Dari situ aku berrefleksi, mengapa aku mendapat tugas membaca Injil Yohanes secara keseluruhan. Kemungkianan lukisan-lukisan itu dapat menjawabnya.

Refleksi: Mengapa Pilih Santo Stanislaus Kostka?

Sewaktu pertama kali masuk UNNES, aku mengenal banyak hal-hal baru. Terutama unit-unit kegiatan mahasiswa yang bermacam-macam. Ada unit kerohanian masing-masing agama yang diakui secara de facto dan de jure di Indonesia.

Waktu itu adalah hari registrasi, aku pertama kali bertemu dengan Mbak Fransiska Hesti P., yang ternyata satu jurusan dengan aku. Mbak Fransiska yang waktu itu menyambut aku untuk mendaftar nama mahasiswa yang Katolik. "Mbak, mas, nama santo pelindungnya apa untuk unit kerohaniannya?" "Santo Stanislaus Kostka." Timbul pertanyaan dalam diriku. Mengapa Santo Stanislaus Kostka? Mengapa tidak Santo Albertus Magnus? Bukankah Santo Albertus Magnus memang pelindung para ilmuwan dan mahasiswa?

Perenungan ini aku renungkan sampai hampir satu semester ini. Titik terang yang aku dapat terdapat dalam kisah riwayat Santo Stanislaus Kostka, dan dikaitkan dengan keadaan universitas.

Stanislaus Kostka meninggal sebagai seorang novis Jesuit di usia 18 tahun. Lalu, apa hubungan novis dengan mahasiswa? Sebenarnya, dari sini dapat menjadi dualisme filosofi. Dari filosofi keilmuan, mahasiswa adalah novis untuk ilmu pengetahuan. Mahasiswa mencari ilmu dan belajar demi kemajuan ilmu pengetahuan dan umat manusia. Untuk mencapai itu semua, mahasiswa dengan segala idealismenya, melakukan hal yang baik/luhur dengan tekun.

Dari filosofi iman dan kemanusiaan, mahasiswa harus ringan tangan, peduli, rela berbagi, dan menjalin persaudaraan yang sejati. Disamping itu, mahasiswa sudah layak dan sepantasnya untuk rendah hati. Mahasiswa haruslah menghayati ilmu padi. Padi yang semakin matang dan berisi seharusnya semakin menunduk. Dengan menunduk dan menguningnya padi, maka padi siap dipanen. Panenan yang diharapkan adalah panenan yang baik. Dengan demikian dapat berguna dengan orang banyak.

Jadi, mahasiswa katolik UNNES dituntut untuk meneladan dan menghayati semangat Santo Stanislaus Kostka dengan percaya kepada Allah dalam keadaan apapun, dalam kesulitan tersulit sekalipun.


Seri Ensiklik: Sollucitudo Rei Socialis

Sollucitudo Rei Socialis adalah salah satu dari ensiklik yang ditulis oleh Bapa Suci Beato Yohanes Paulus II. Secara umum, Sollucitudo Rei Socialis berisi ajaran Gereja tentang sosial. Ensiklik ini ditujukan kepada para Uskup, para Imam, tarekat-tarekat hidup bakti, putra-putri Gereja, dan semua orang yang beritikad baik.

Ensiklik ini diterbitkan untuk memperingati ulang tahun kedua-puluh Ensiklik "Populorum Progressio". Dokumen ini terbit pada 30 Desember 1987, dan tahun kesepuluh kepausan Bapa Suci Beato Yohanes Paulus II. Tujuan dari diterbitkannya ensiklik ini adalah untuk mempertegas ajaran sosial Gereja yang telah diajarkan oleh Magisterium.

Itulah secara singkat, tentang Ensiklik Sollucitudo Rei Socialis. Untuk mengunduhnya, silakan klik disini.

Basilika Santo Petrus dan Piazza San Pietro dari Sisi Teologi

3 Juli 2012 yang lalu, ada seminar komunikasi di Parokiku. Pembicaranya adalah Pater Alfonsus W.,SX. yang merupakan kakak kelasku (yang amat jauh sekali di SD Katolik Santa Maria Rembang). Setelah seminar, kami terlibat pembicaraan yang akrab. Kami berbicara banyak hal, mulai dari keadaanku, rencana langkahku ke depanya, sampai membahas Vatikan dan Kota Roma Citta di Dios.



Pembicaraan ini, akulah yang memulainya. Aku yang penasaran dengan Gereja Santa Maria della Vittoria. Secara detail Padre Alfons menerangkan. Lalu, berlanjut ke Piazza San Pietro dan Basilika Santo Petrus. Baginya, di sana adalah tempat yang indah tetapi memiliki sisi teologis.

Menurut sebuah novel karangan Dan Brown yang pernah aku baca, tokoh utama dari novel itu menyatakan bahwa Piazza San Pietro membuat hati tenang dan membuat menjadi rendah hati. Sejujurnya, aku belum pernah ke Vatikan. Tetapi, bisa jadi hal itu benar. Basilika Santo Petrus, Piazza San Pietro, dan bagian atas Basilika merupakan satu kesatuan. Mereka menggambarkan Gereja.

Piazza San Pietro merupakan gambaran Gereja yang berziarah. Piazza hasil rancangan Bernini ini, dikelilingi oleh pilar-pilar tembok yang menjulang dan pada puncaknya terdapat patung para kudus dan para martir yang jaya. Disini hendak ditunjukkan kepada kita sebuah persekutuan yang telah berjaya. Kita seolah-olah diajak oleh-Nya untuk mencapai Gereja yang Jaya. Untuk naik ke atas (ke arah menuju pilar-pilar dengan patung para kudus) ada jalannya. Satu-satunya jalan ada di dalam Basilika. Basilika inilah penggambaran tentang Gereja Hirarki. Hal ini mau memberitahu kita tentang bagaimana jalan menuju Gereja yang Jaya.

Hanya ada satu jalan, yakni percaya kepada Kristus dan percaya kepada ajaran GerejaNya yang kudus.