Pada Paskah tahun 2025 dan 2026, aku mendapatkan tugas sebagai petugas passio. Tetapi, kedua tugas itu memiliki tantangan yang berbeda dan keduanya sangat berkesan. Pertama aku akan menceritakan sedikit tentang Paskah tahun 2025 di Kapel St. Athanasius Agung, Fasilitas Kerohanian UGM.
Inilah pertama kalinya Kapel UGM mengadakan pekan suci, setelah kesuksesan penyelenggaraan perayaan Natal dan malam Natal tahun 2024. Pengurus kapel optimis untuk menyelenggarakan pekan suci 2025. Nah.., karena kondisi, pada waktu itu agak tidak mungkin untuk menyelenggarakan seleksi terbuka petugas untuk pekan suci 2025. Sehingga pengurus kapel mengambil keputusan untuk memilihku sebagai passio. Padahal, aku sudah lulus dan sudah wisuda juga. Catatan akhir tentang perkuliahan itu, sudah aku tulis juga. Klik di sini untuk membacanya. Nah.., sepertinya, cerita detail tentang Paskah 2025 ini juga menarik untuk ditulis, ya.
Jumat Agung tahun 2025 di UGM itu membuatku rindu dengan suasana Jumat Agung tanpa iringan apapun dan passio versi PML juga dipakai dalam ibadat, seperti di paroki St. Petrus dan Paulus Rembang. Nah.., tahun 2026 ini, aku diminta bertugas untuk Jumat Agung di parokiku sendiri, terutama passio. Passio yang dipakai saat Jumat Agung adalah Passio menurut Yohanes yang diaransemen oleh Damian Alma. Aku ingin berkomentar tentang aransemen yang dibuat oleh Damian Alma ini.
Secara musikalitas, aransemen yang telah dibuat enak untuk didengarkan. Bahkan umat yang tidak begitu paham musik akan menganggap bahwa Passio ini seperti mendengarkan opera. Yah.., demikianlah yang mendengarkan. Aku pribadi menganggap sama dengan umat pada umumnya, meskipun dibalik layar persiapannya sungguh menantang.
Aku bertugas untuk mengambil peran sebagai Narator 4 (Petrus, Imam dalam pengadilan agama Yahudi dan paling banyak Pilatus). Narator 4 ini memang cocok atau khusus dibawakan oleh pria bersuara tenor (atau bariton juga bisa). Aku cukup menikmatinya, meskipun dengan banyak perjuangan. Pertama aku sudah terbiasa dengan Passio versi PML, sehingga banyak kalimat yang liriknya malah terucap versi PML, bukan lirik dari Passio Damian Alma ini. Aku merasa kerepotan untuk belajar lirik baru.
Kedua, tentang penulisan nada yang menurutku perlu ditingkatkan. Jadi, aku terbiasa dengan buku mazmur dan buku lagu ibadat harian. Menurutku peningkatan penulisan nada adalah dibuat sama dengan buku mazmur, yang jika frase itu dibunyikan dengan nada yang sama, cukup ditulis di awal dan di akhir frase-frase itu. Selain itu, flexa sudah ditambahkan pada kalimat-kalimat panjang. Bagimu yang tidak tahu apa itu flexa, flexa merupakan "lipatan" untuk memotong satu kalimat panjang pada lirik mazmur yang ditandai dengan penurunan nada. Aku mengapresiasi keberadaan flexa yang sudah ditulis itu.
Ketiga, tentang tingkat kesulitan dalam membawakan setiap peran. Menurutku, Passio ini tidak cocok untuk dibawakan oleh pemazmur pemula atau imam yang kurang cakap dalam bernyanyi. Sebab pengalamanku dalam membawakan beberapa tokoh, agak sulit menyisipkan ekspresi-ekspresi yang diperlukan. Misalnya: jawaban Pilatus atas pertanyaan Yesus yang mempertanyakan tentang status raja pada Yesus. Aku menginterpretasikan bahwa Pilatus ini memberikan jawaban yang sedikit menghina Yesus, yaitu pada kalimat: "Apakah aku seorang Yahudi?" Kalimat berikutnya cenderung kalimat-kalimat yang menunjukkan keheranan. Demikian juga pada bagian lain, Pilatus yang menyerukan kepada rakyat untuk menunjukkan Yesus dengan kalimat "Inilah rajamu!". Bagian itu, Pilatus ingin menunjukkan sekaligus bertanya kepada rakyat bahwa apa benar Dia rajamu. Menurutku, sebagaimana seorang pejabat, Pilatus pada dialog ini harus tegas dan meyakinkan. Bagian lain lagi, tentang Pilatus adalah pada bagian akhir yang ketus atau kesal karena didesak untuk mengubah tulisannya.
Khusus tokoh Pilatus, secara musikalitas, menurutku termasuk tokoh yang paling "menderita". Sebab nada percakapan Pilatus selalu diawali dengan nada re, sedangkan pada percakapan sebelumnya, sama sekali tidak ada nada re. Ketiadaan nada re pada percakapan sebelumnya, membuat karakter Pilatus rentan fals. Jadi memang passio ini tidak cocok untuk dibawakan oleh pemazmur pemula.
Untuk pemeran yang lainnya, kesulitan yang dialami adalah nada yang bernilai di antara nada utama, seperti sa (nada diantara la dan si) atau sel (nada diantara sol dan la). Aransemen seperti ini, semakin meyakinkan bahwa Passio ini tidak untuk pemazmur pemula.
Berikut ini merupakan cuplikan video, ketika aku bertugas.
Demikianlah pendapatku tentang Passio ini. Apabila ada yang kurang berkenan, aku minta maaf. Semoga opini ini bisa berguna.

https://orcid.org/0009-0001-5292-8615
0 comments:
Posting Komentar