Menginstall Modem Huawei E153 pada Slax 7.0.5


Pada akhir bulan ini, aku libur hingga akhir bulan Februari. Wah..., ternyata liburnya anak kuliahan itu lama ya? Yah..., maklumlah baru saja belajar di Perguruan Tinggi, jadi masih banyak yang belum biasa. Liburan ini aku kembali ke kebiasaan isengku, yaitu otak-atik apapun yang ada di sekitarku. Kali ini aku iseng untuk mengotak-atik modemku di Slax.

Suatu kabar gembira bahwa Slax kembali dirilis yang terbaru. Sebab yang dirilis pada saat natal, kemungkinan masih ada bug. Bug itu pada bagian pengaturan boot installer. Boot installer ini bermasalah pada peng-install-an boot pada Ubuntu dan turunannya. Sempat aku bingung, tetapi setelah membaca posting dari Mr. Tomas aku menjadi memahami. Menurut Mr. Tomas Ubuntu adalah distribusi yang rumit. Tetapi tidak masalah, aku sudah mengunduh yang versi yang terbaru.

Baik, kali ini aku mempunyai modem Huawei E153 dan akan aku uji-coba. Kemungkinan cara ini bisa diterapkan pada modem lain.

Pertama, nyalakan komputer, dan boot ke Slax dan buka konsole atau xterm. Setelah itu, colok atau pasang modem. Silakan ketik ini pada Konsole.

lsusb
Ini untuk mendeteksi apakah modem sudah tersambung (terdeteksi) atau belum. Setelah diketikan itu, keluarlah tulisan ini.
Bus 001 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 002 Device 002: ID 8087:0024 Intel Corp. Integrated Rate Matching Hub
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 001 Device 007: ID 12d1:14ac Huawei Technologies Co., Ltd.
Bus 001 Device 004: ID 0a5c:21bc Broadcom Corp. BCM2070 Bluetooth 2.1 + EDR
Bus 001 Device 005: ID 0c45:643e Microdia
Bus 002 Device 003: ID 1307:0165 Transcend Information, Inc. 2GB/4GB Flash Drive
Yang aku beri tanda tulisan tebal, itu adalah device-ku. Lalu, disini dapat kita catat bahwa vendorID=12d1 dan productID=14ac. Lalu, pada Konsole, ketikan ini.
dmesg
Itu menunjukan kepada kita informasi tentang device yang terhubung ke komputer kita. Memang, saking banyaknya device informasinya banyak pula. Kemudian carilah yang menggambarkan/menampakan device kita. Kebetulan yang menggambarkan punyaku yang seperti ini.
...
USB Serial support registered for GSM modem (1-port)
option 5-2:1.0: GSM modem (1-port) converter detected
usb 5-2: GSM modem (1-port) converter now attached to ttyUSB0
option 5-2:1.1: GSM modem (1-port) converter detected
usb 5-2: GSM modem (1-port) converter now attached to ttyUSB1
option 5-2:1.2: GSM modem (1-port) converter detected
usb 5-2: GSM modem (1-port) converter now attached to ttyUSB2
...
Dari sini dapat kita catat bahwa lokasi modem kita pada /dev/ttyUSB0, /dev/ttyUSB1, dan /dev/ttyUSB2. Diantara ketiga itu, kita harus mencoba satu per satu.

Setelah bermain (proses) dengan Konsole, kita menggunakan KPPP sebagai dialler. Klik configure-modems-new. Di situ, tulis nama modem, dan gantilah lokasi modem dengan lokasi yang telah kita dapat. Lakukan setting account. Klik Connect. Cobalah satu per satu untuk lokasi modem, apabila belum berhasil.

Demikian, semoga berguna.

Refleksi: Mengapa Pilih Santo Stanislaus Kostka?

Sewaktu pertama kali masuk UNNES, aku mengenal banyak hal-hal baru. Terutama unit-unit kegiatan mahasiswa yang bermacam-macam. Ada unit kerohanian masing-masing agama yang diakui secara de facto dan de jure di Indonesia.

Waktu itu adalah hari registrasi, aku pertama kali bertemu dengan Mbak Fransiska Hesti P., yang ternyata satu jurusan dengan aku. Mbak Fransiska yang waktu itu menyambut aku untuk mendaftar nama mahasiswa yang Katolik. "Mbak, mas, nama santo pelindungnya apa untuk unit kerohaniannya?" "Santo Stanislaus Kostka." Timbul pertanyaan dalam diriku. Mengapa Santo Stanislaus Kostka? Mengapa tidak Santo Albertus Magnus? Bukankah Santo Albertus Magnus memang pelindung para ilmuwan dan mahasiswa?

Perenungan ini aku renungkan sampai hampir satu semester ini. Titik terang yang aku dapat terdapat dalam kisah riwayat Santo Stanislaus Kostka, dan dikaitkan dengan keadaan universitas.

Stanislaus Kostka meninggal sebagai seorang novis Jesuit di usia 18 tahun. Lalu, apa hubungan novis dengan mahasiswa? Sebenarnya, dari sini dapat menjadi dualisme filosofi. Dari filosofi keilmuan, mahasiswa adalah novis untuk ilmu pengetahuan. Mahasiswa mencari ilmu dan belajar demi kemajuan ilmu pengetahuan dan umat manusia. Untuk mencapai itu semua, mahasiswa dengan segala idealismenya, melakukan hal yang baik/luhur dengan tekun.

Dari filosofi iman dan kemanusiaan, mahasiswa harus ringan tangan, peduli, rela berbagi, dan menjalin persaudaraan yang sejati. Disamping itu, mahasiswa sudah layak dan sepantasnya untuk rendah hati. Mahasiswa haruslah menghayati ilmu padi. Padi yang semakin matang dan berisi seharusnya semakin menunduk. Dengan menunduk dan menguningnya padi, maka padi siap dipanen. Panenan yang diharapkan adalah panenan yang baik. Dengan demikian dapat berguna dengan orang banyak.

Jadi, mahasiswa katolik UNNES dituntut untuk meneladan dan menghayati semangat Santo Stanislaus Kostka dengan percaya kepada Allah dalam keadaan apapun, dalam kesulitan tersulit sekalipun.